Srawungan: Cerdas dan Cakap sebagai Output Pertama Manusia

Rumah, bagian penting dalam proses belajar manusia, juga menjadi bagian pelengkap kebutuhan manusia dalam berproses menata kehidupannya. Rumah bukan ukuran, jenis ataupun model yang dipilih, tetapi ruang agung sebagai hasil proses kreatif dan preventif manusia terus berkembang hingga hari ini.


Secuil tanya hingga saat ini masih belum ditemukan jawaban pasti; "Apakah rumah dan bagaimanakah rumah itu?" Mayoritas orang hari ini menyebutkan wujud kasih sayang, wujud pengorbanan, representasi pandangan seseorang dalam ketersalingan sampai sebagai tempat tinggal belaka. Coba kita pantik diri kita sendiri dengan esensi rumah, "Mengapa disebut rumah? Atau mengapa rumah harus dihadirkan dalam kehidupan manusia?"


Riungan rutin bersama Magarmaya
Sumber: Potret Pribadi


Sedetik Menilik

Sejenak kita telah mengarah pada berliterasi, sebuah aktivitas yang dibutuhkan dalam mendayagunakan Rahmat Allah dan menebar manfaat. Merujuk perkataan Ali Antoni, bahwa berpikir merupakan bagian alamiah dan wajib bagi manusia, sebab dengan berpikir, manusia mendapatkan cahaya dan solusi terbaik dibanding prasangka.


Sedikit perbincangan mengenai proses belajar manusia dimulai dari rumah, yakni mengenai pentingnya bahasa dan kejujuran menyampaikan. Dalam obrolan darat bersama dosen di Sukabumi, pentingnya menjaga komunikasi dan melatih bahasa menentukan seseorang dapat memberi dan mendapat manfaat lebih luas dan menjalar. Kita sering melihat orang memberitahu lewat ucapan dan nantinya akan tersambung tanpa henti, kita sering melihat pemberian wujud yang dapat menggetarkan jiwa orang lain untuk mengikuti hal baik.


Nah, hal seperti itu dapat dilakukan jika terotomatisasi dari rumah, kemudian pribadi memandang cara belajar manusia di Indonesia cenderung imitatif atau meniru apa yang sudah dilakukan kemudian mengembangkannya, atau memang semuanya bertindak seperti itu, ya. Heuheu.


Rumah sebagai Produksi Kata Pertama untuk Anak

Sejenak membuka lembar selanjutnya pada rerasan kecil, yaitu membina kecakapan anak dalam komunikasi dan bahasa. Baiknya, orangtua memiliki kecakapan fleksibel dalam membina tata wicara anak, terlebih dalam bahasa ibu dan nasional. Seorang anak dapat dibentuk dengan pengalaman dan kepekaan sang anak yang difasilitasi oleh orangtua, kemudian melatih perlahan di dalam rumah dan di lingkungannya.


Mengasah kemampuan, mengembangkan tata bahasa dan laku, sampai membangun kecerdasan yang dibutuhkan menjadi aktivitas sehari-hari di dalamnya. Termasuk pada pemenuhan keilmuan untuk dijadikan produk aktif bagi keberlangsungan sang anak dan orangtua, agar menebar benih manfaat dan kebahagiaan batin di antara mereka. Apalagi mengenalkan pada kecakapan informasi di era algoritma, menjadi poin penting untuk anak.


Era algoritma ini merupakan ruang baik untuk perkembangan cara berpikir anak, termasuk memilah dan mengembangkan informasi menjadi asupan manfaat. Beberapa kajian telah menyebutkan bahwa perkembangan batin anak hari ini dipengaruhi besar oleh ketersediaan informasi, seperti media sosial dan wacana di lingkup masyarakat. Orangtua memerlukan penyampaian informasi yang baik untuk melatih proses berpikir secara terbuka dan fleksibel, terlebih hal sensitif kepada anak. Berikan ruang diskusi di meja makan maupun ruang tamu, agar anak terus merasakan pembelajaran hingga kelak menjadi manusia.


Prosesi Kelahiran Aktivitas Setelah Membaca

Kecerdasan berargumentasi dimulai dengan bagaimana mengelola tata laku dan tata bicara di rumah, kemudian dikembangkan melalui interaksi sosial terdekat yang dikelola bersama, entah dengan keluarga, saudara, teman, guru dan masyarakat di lingkungannya.


Kecerdasan berargumentasi dapat dipupuk dengan literasi bahasa, artinya pandai memilih diksi, pandai mengelola diksi, dan pandai mengutarakan dengan diksi yang tepat, jelas dan cakap.


Kecerdasan memilah dan memilih diperlukan untuk tahu kelola diri. Kecerdasan memilah artinya tahu cara-cara untuk mengonsumsi dan memproduksi kembali menjadi olahan terbaik. Kecerdasan memilih artinya tahu mengelola olahan menjadi bahan untuk dinikmati bersama.


Kejernihan berpikir menjadi pilihan bagi proses mewujudkan kecerdasan bangsa. Kejernihan berpikir dapat dimulai dengan bagaimana aktivasi dan cicilan kejernihan dari berbagai tahapan seseorang.


Kiranya sepercik nukilan wacana yang didapat bersama praktisi matematika ITB, yang menyebutkan bahwa pentingnya kecerdasan yang disadari, tidak hanya dipelajari atau dikembangkan dengan tendensi meraih keberadaan manusia. Eksistensi dan ego perlu dibungkus rapi, bukan lagi dibuang namun ada saatnya digunakan, terlebih pada momen yang menyebabkan pentingnya menggunakan keduanya.


Kiranya percakapan demi percakapan ini terbungkus rapi untuk menjadikan pikiran fleksibel dan memudahkan seseorang dalam menyaring, menyikapi dan menyampaikan informasi. Sebuah rerasan tidak cukup diresahkan dengan suasana gelap, perlu lampu dan keluar berjemur di matahari agar merasakan hawa yang sama, kemudian bicarakan dengan lapang pikir dan hati. Tabik!


Source:

1. Head, A.J., Fister, B., & MacMillan, M. 2020. Information Literacy in The Age of Algorithms: Student experiences with news and information, and the need for change. Knight Foundation with Harvard Graduate School of Education & School of Library and Information Science College of Information and Communication

2. Abrosimova, G.A. (2020). Digital Literacy and Digital Skills in University Study. SciEdu Press, 9(8), 52-58. https://doi.org/10.5430/ijhe.v9n8p52

Next Post Previous Post
1 Comments
  • Sulaeman Daud
    Sulaeman Daud 14 Januari 2024 pukul 00.48

    Pendidikan keluarga sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. Inilah sebabnya mengapa begitu penting pendidikan di dalam keluarga terutama sosok Ibu. Al umm madrasatul ula.

    Mantap Kang Arief, benar kata kang Azwar isinya daging doang ini. Kemasannya sangat bagus.

Add Comment
comment url