Srawungan: Literasi Tidak Selalu Soal Menulis

Memang, terlalu arogan jika literasi hanya dipandang sebagai bahan candaan atau langkah pesimis yang dilakukan generasi muda. Memang juga, sebelum melakukan tindakan di dalam ranah harus memahami dan mengerti apa dan siapa yang menjadi sasaran pengetahuan. Pandangan tentang dunia kepenulisan, dunia pengetahuan dan beberapa aspek kehidupan ini seakan-akan membuat sesak ruang gerak, padahal manusia sudah alami mencari dan menggali pengetahuan darimanapun jalannya. Apa memang harus dengan sekolah agar bisa disebut berwawasan luas? Apa harus berkumpul dengan mayoritas akademik untuk dicap sebagai yang cerdas?


Pemaparan jurnalistik dalam acara LDKS di MA Darul Ulum, Kec. Ciracap, Kab. Sukabumi


Ngawiti Ageman

Melihat ruang literasi di beberapa wilayah dan platform, pembahasan mengenai kepenulisan menjadi topik utama. Meskipun bagi pribadi adalah hal penting, namun dapat dikombinasi dengan kemampuan lainnya, seperti kemampuan olah informasi, re-check dan pemilahan informasi, sampai memahami konteks untuk dijadikan bahan tulisan selanjutnya justru lebih baik ketimbang hanya menguasai bidangnya. Sebab, poin literasi tidak hanya sekedar cerdas baca-tulis, tetapi komunikasi di dalamnya diperlukan untuk menjembatani pemikiran penulis dan pembaca.

Kepenulisan ini yang semestinya kita pandang bukan sebagai tujuan utama adanya gerakan literasi, tetapi sudah sewajarnya manusia diberikan kemampuan untuk hidup, salah satunya membaca dan menulis. Namun, hal demikian tidak mudah dipahami dan dipraktikkan oleh semua orang, perlu cara dan metode masing-masing agar kemampuan manusia yang dimiliki dapat teraktivasi dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan.

Dengan cara memantik atau menggeser verbal menjadi tekstual untuk berapa hari atau jam, menurut pandangan pribadi melahirkan kesan kreatif, sebab ada perbedaan penyajian dan penyampaian ketika menggunakan media literer dan komunikatif. Jadi, literasi memberikan ruang luas untuk kemampuan membaca dan menulis.

Pembahasan selanjutnya adalah berkarya fisik atau membuat buku. Sebuah bahasan yang dilingkupi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan apik, akan lebih tepat jika melatih beberapa kemampuan memilah dan memilih diksi, gaya bicara, menghidupkan tulisan dan kemampuan membawa pembaca untuk masuk ke dalam tulisan. Hal demikian menjadi satu ketertarikan kawula muda untuk menggenjot kemampuannya dalam menulis, bagi pribadi terdapat hal terlewatkan di dalamnya: ruang online dan visual lebih diminati daripada membeli buku atau nongkrong di perpustakaan.

Mengingat momen demikian, ada hal yang jauh mengesalkan: pembajak buku. Hal serius yang mungkin belum ditemukan formula untuk mengurangi atau menghapus, apalagi bukan hanya fisik tetapi secara online pun masih merambat dan mengakar.


Mari Coba Nukil Sesarengan

Secara umum, memang menjadi topik yang seringkali memberatkan, tetapi bagi masyarakat yang memiliki kesadaran menyayangkan matinya berkarya. Jika disadari lebih jauh, mereka sebagai penulis bisa saja hidup di dalam tulisan sebab tidak ada jalan lain, atau merelakan matinya bakat mereka dalam menulis. Bahkan, beberapa penulis atau pengarang yang masih membutuhkan bimbingan juga perlu dukungan moral dan mental, agar tidak mudah tenggelam, melayang atau berenang di lautan kegamangan.

Matinya berkarya inilah menjadi hal serius, terutama bagi penulis, dimana dalam tahap awal selalu dikelilingi oleh pengetahuan dasar, kemampuan dasar dan ketahanan dasar. Maksudnya adalah hal-hal dasar kepenulisan mulai dari teknis, pengelolaan diri sampai manajemen sikap seorang penulis. Hal seperti ini yang jarang dibahas oleh kawan literasi, sebab pondasi penting seorang penulis adalah memahami diri dan mampu membawa diri ketika berposisi sebagai penulis dan sebagai manusia seutuhnya.

Sejatinya, ketersediaan informasi dan fasilitas bisa membuat kawula muda menuangkan ide dan kreatifitasnya lewat berbagai media, melalui visual, teks atau bahkan obrolan pinggir jalan yang bisa merambat ke telinga masyarakat. Artinya, literasi tidak dibatasi dengan ruang dan objek pembantu, namun secara kolaboratif dapat masuk dan membaur menjadi satu kekuatan.

Apalagi jika media online dapat menyajikan berbagai sumber dan output menarik dari penggeraknya, maka beberapa pintu literasi lainnya akan terbuka, dengan catatan baca-tulis terpatri dan dilakukan otomatis dan rapi. Kesadaran akan kemampuan itulah yang dapat membawa gerakan literasi bukan lagi tren, tetapi telah mengakar menjadi budaya sejati manusia sebagai makhluk Allah yang terus merepresentasikan Rahman Rahim-Nya.


Pandang Melintang Perihal Literasi

Melatih diri untuk tetap bersikap rapi dan apik di setiap aktivitasnya, penempaan moral perlu ditekankan setiap evaluasi atau setelah menulis karya. Apabila hal tersebut telah terlaksana secara rutin, maka akan membantu seorang penulis untuk mendapat konsistensi dan kualitas diri lebih baik.

Melatih konsistensi dan menjaga niat jadi poin pokok, keduanya ada keterkaitan dan kekuatan dualitas yang menurut pribadi melahirkan spirit penebaran manfaat dari kegiatan literasi. Ya, bisa dibilang, jika kita menanam satu pohon dan merawatnya, akan berbuah dan regenerasinya dapat didayagunakan sebagai hasil terbaik.

Melatih kesadaran akan kemampuan yang dimiliki juga penting, sebab kepercayaan diri dan kepekaan akan titipan Allah pada diri kita, ya sepatutnya dimanfaatkan untuk kebutuhan diri, keluarga, dan masyarakat, terutama pada sisi pendidikan dan peningkatan sumber daya.

Memberikan ruang belajar bagi siapapun itu yang nanti menjadi output bagi mereka yang melanggengkan aktivitas tiga poin tersebut. Nah, endingnya adalah evaluasi dini untuk merancang jalan ke depan dan apa yang perlu dilakukan, paling tidak gerakan literasi tidak hanya bersifat euforia belaka namun menjadi tanggungjawab bersama.

Teringat perkataan kawan dari Madura dan penyair Indramayu ketika kongkow perihal kemampuan dasar manusia yang sejatinya punya banyak aspek;

Literasi tidak melulu tentang menulis, lho. Kan sudah dibilang kemampuan manusia untuk memahami, menggali dan melakukan beberapa hal di dalam hidupnya. Kata kuncinya adalah memahami apa yang seseorang baca, kaji dan telaah untuk dijadikan pembelajaran.


Lontaran kawan asal Palembang dan Surabaya pun menyepakati statement mereka;

Kita bikin diary juga bagian literasi, sampai bikin status di Facebook sebenernya sudah melakukan literasi. Karena, literasi itu kita mampu mendayagunakan sumber daya yang dimiliki sesuai porsi dan kebutuhan kita ke orang lain. Maka, baca tulis itu pintu, bukan tujuan akhir. Nggak ada ending di dunia literasi, karena kita terus berproses.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url